Pengurus HMI

Kami akademisi muda mencita-citakan kemajuan,kesejahtraan,dan keadilan terwujud di Tanah Air Indonesia tercinta. YAKin Usaha SAmpai.

Kader HMI

Kader HMI anti Korupsi, Nepotisme, dan Kolusi.

Logo HMI

HMI merupakan Organisasi Kemahasiswaan, Organisasi Pengkaderan dan Perjuangan yang didirikan pada 5 Februari 1947 M / 14 Rabiul Awal 1366 H. Dengan tujuan Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata'ala.

Sebagian besar Tokoh berpengaruh di Indonesia berlatar HMI

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 09 Juni 2013

Sejarah Tentara Nasional Indonesia

Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) dibentuk melalui perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dari ancaman Belanda yang ingin kembali berkuasa menjajah Indonesia melalui kekerasan senjata. TNI pada awalnya merupakan organisasi yang bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan selanjutnya diubah kembali menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

Pada masa mempertahankan kemerdekaan ini, banyak rakyat Indonesia membentuk laskar-laskar perjuangan sendiri atau badan perjuangan rakyat. Usaha pemerintah Indonesia untuk menyempurnakan tentara kebangsaan terus berjalan, sambil bertempur dan berjuang untuk menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Untuk mempersatukan dua kekuatan bersenjata yaitu TRI sebagai tentara regular dan badan-badan perjuangan rakyat, maka pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden Soekarno mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara resmi.

Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Desember 1949, Indonesia berubah menjadi negara federasi dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Sejalan dengan itu maka dibentuk pula Angkatan Perang RIS (APRIS) yang merupakan gabungan antara TNI dan KNIL. Pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negera kesatuan, sehingga APRIS berganti nama menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

Pada tahun 1962, dilakukan upaya penyatuan antara angkatan perang dengan kepolisian negara menjadi sebuah organisasi yang bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Penyatuan satu komando ini dilakukan dengan tujuan untuk mencapai tingkat efektifitas dan efisiensi dalam melaksanakan perannya dan menjauhkan pengaruh dari kelompok politik tertentu.

Pada tahun 1998 terjadi perubahan situasi politik di Indonesia. Perubahan tersebut berpengaruh juga terhadap keberadaan ABRI. Pada tanggal 1 April 1999 TNI dan Polri secara resmi dipisah menjadi institusi yang berdiri sendiri. Sebutan ABRI sebagai tentara dikembalikan menjadi TNI, sehingga Panglima ABRI menjadi Panglima TNI.

Periode pembentukan (1945-1947)

Badan Keamanan Rakyat


Pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya memutuskan untuk membentuk tiga badan sebagai wadah untuk menyalurkan potensi perjuangan rakyat. Badan tersebut adalah Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).[1]

BKR merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang semula bernama Badan Pembantu Prajurit dan kemudian menjadi Badan Pembantu Pembelaan (BPP). BPP sudah ada dalam zaman Jepang dan bertugas memelihara kesejahteraan anggota-anggota tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho.[1]

Pada tanggal 18 Agustus 1945 Jepang membubarkan PETA dan Heiho. Tugas untuk menampung bekas anggota PETA dan Heiho ditangani oleh BPKKP.[2] Pembentukan BKR merupakan perubahan dari hasil sidang PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 yang telah memutuskan untuk membentuk Tentara Kebangsaan.
Pembentukan BKR diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus 1945.[1] Dalam pidatonya Presiden Soekarno mengajak pemuda-pemuda bekas PETA, Heiho, Kaigun Heiho, dan pemuda-pemuda lainnya untuk sementara waktu bekerja dalam bentuk BKR dan bersiap-siap untuk dipanggil menjadi prajurit tentara kebangsaan jika telah datang saatnya.

Karena pada saat itu komunikasi masih sulit, tidak semua daerah di Indonesia mendengar Pidato Presiden Soekarno tersebut. Mayoritas daerah yang mendengar itu adalah Pulau Jawa. Sementara tidak semua Pulau Sumatera mendengar. Sumatera bagian timur dan Aceh tidak mendengarnya.

Walaupun tidak mendengar pemuda-pemuda di berbagai daerah Sumatera membentuk organisasi-organisasi yang kelak menjadi inti dari pembentukan tentara. Pemuda Aceh mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API), di Palembang terbentuk BKR, tetapi dengan nama yang lain yaitu Penjaga Keamanan Rakyat (PKR) atau Badan Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR).[3]

Tentara Keamanan Rakyat

Menyerahnya Jepang kepada tentara sekutu menyebabkan kedatangan tentara Inggris ke Indonesia yang dimanfaatkan oleh tentara Belanda untuk kembali ke Indonesia. Situasi ini menjadi mulai tidak aman. Oleh karena itu pada tanggal 5 Oktober 1945, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat pembentukan tentara kebangsaan yang diberi nama Tentara Keamanan Rakyat.

Pemerintah memanggil bekas Mayor KNIL Oerip Soemohardjo ke Jakarta. Wakil Presiden Dr.(H.C.) Drs Mohammad Hatta mengangkatnya menjadi Kepala Staf Umum TKR dengan pangkat Letnan Jenderal dan diberi tugas untuk membentuk tentara.[4] Pada waktu itu Markas Tertinggi TKR berada di Yogyakarta.
Presiden Soekarno pada tanggal 6 Oktober 1945, mengangkat Suprijadi, seorang tokoh pemberontakan PETA di Blitar untuk menjadi Menteri Keamanan Rakyat dan Pemimpin Tertinggi TKR. Akan tetapi beliau tidak pernah muncul sampai awal November 1945, sehingga TKR tidak mempunyai pimpinan tertinggi. Untuk mengatasi hal ini, maka pada tanggal 12 November 1945 diadakan Konferensi TKR di Yogyakarta dipimpin oleh Kepala Staf Umum TKR Letnan Jenderal Oerip Sumohardjo. Hasil konferensi itu adalah terpilihnya Kolonel Soedirman sebagai Pimpinan Tertinggi TKR. Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 18 Desember 1945 mengangkat resmi Kolonel Soedirman menjadi Panglima Besar TKR, dengan pangkat Jenderal.[5]

Menjadi Tentara Keselamatan Rakyat

Untuk memperluas fungsi ketentaraan dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keamanan rakyat Indonesia, maka pada tanggal 7 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan Penetapan Pemerintah No.2/SD 1946 yang mengganti nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian nama Kementerian Keamanan Rakyat diubah namanya menjadi Kementerian Pertahanan.
Markas Tertinggi TKR mengeluarkan pengumuman bahwa mulai tanggal 8 Januari 1946, nama Tentara Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat.[6]

Tentara Republik Indonesia

Untuk menyempurnakan organisasi tentara menurut standar militer internasional, maka pada tanggal 26 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan maklumat tentang penggantian nama Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia. Maklumat ini dikeluarkan melalui Penetapan Pemerintah No.4/SD Tahun 1946.[7]

Untuk mewujudkan tentara yang sempurna, pemerintah membentuk suatu panita yang disebut dengan Panitia Besar Penyelenggaraan Organisasi Tentara. Beberapa panitia tersebut adalah Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dan Komodor Suryadarma.[8]

Pada tanggal 17 Mei 1946 panitia mengumumkan hasil kerjanya, berupa rancangan dan bentuk Kementerian Pertahanan dan Ketentaraan, kekuatan dan organisasi, peralihan dari TKR ke TRI dan kedudukan laskar-laskar dan barisan-barisan serta badan perjuangan rakyat.

Presiden Soekarno pada tanggal 25 Mei 1946 akhirnya melantik para pejabat Markas Besar Umum dan Kementerian Pertahanan. Pada upacara pelantikan tersebut Panglima Besar Jenderal Soedirman mengucapkan sumpah anggota pimpinan tentara mewakili semua yang dilantik.

Tentara Nasional Indonesia

Usaha untuk menyempurnakan tentara terus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada waktu itu. Banyaknya laskar-laskar dan badan perjuangan rakyat, kurang menguntungkan bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sering terjadi kesalahpahaman antara TRI dengan badan perjuangan rakyat yang lain.[9]

Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman tersebut pemerintah berusaha untuk menyatukan TRI dengan badan perjuangan yang lain. Pada tanggal 15 Mei 1947 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan penetapan tentang penyatuan TRI dengan badan dan laskar perjuangan menjadi satu organisasi tentara.
Pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden Soekarno meresmikan penyatuan TRI dengan laskar-laskar perjuangan menjadi satu wadah tentara nasional dengan nama Tentara Nasional Indonesia. 

Presiden juga menetapkan susunan tertinggi TNI. Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Soerdiman diangkat sebagai Kepala Pucuk Pimpinan TNI dengan anggotanya adalah Letnan Jenderal Oerip Sumohardjo, Laksamana Muda Nazir, Komodor Suryadarma, Jenderal Mayor Sutomo, Jenderal Mayor Ir. Sakirman, dan Jenderal Mayor Jokosuyono.[10]

Dalam ketetapan itu juga menyatakan bahwa semua satuan Angkatan Perang dan satuan laskar yang menjelma menjadi TNI, diwajibkan untuk taat dan tunduk kepada segala perintah dari instruksi yang dikeluarkan oleh Pucuk Pimpinan TNI.[11]

Penataan organisasi (1947-1948)

Kondisi ekonomi negara yang masih baru, belum cukup untuk membiayai angkatan perang yang besar pada waktu itu. Salah seorang anggota KNIP bernama Z. Baharuddin mengeluarkan gagasan untuk melaksanakan pengurangan anggota (rasionalisasi) di kalangan angkatan perang.

Selain itu, hasil dari Perjanjian Renville adalah semakin sempitnya wilayah Republik Indonesia. Daerah yang dikuasai hanyalah beberapa karesidenan di Jawa dan Sumatera yang berada dalam keadaan konomi yang cukup parah akibat blokade oleh Belanda.

Pada tanggal 2 Januari 1948 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.1 Tahun 1948, yang memecah Pucuk Pimpinan TNI menjadi Staf Umum Angkatan Perang dan Markas Besar Pertempuran. Staf Umum dimasukkan kedalam Kementerian Pertahanan di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP). Sementara itu Markas Besar Pertempuran dipimpin oleh seorang Panglima Besar Angkatan Perang Mobil. Pucuk Pimpinan TNI dan Staf Gabungan Angkatan Perang dihapus.

Presiden mengangkat Komodor Suryadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Perang dengan Kolonel T.B. Simatupang sebagai wakilnya. Sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Mobil diangkat Jenderal Soedirman. Staf Umum Angkatan Perang bertugas sebagai perencanaan taktik dan siasat serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan. Sementara Staf Markas Besar Angkatan Perang Mobil, adalah pelaksana taktis operasional.[12]

Keputusan Presiden ini menimbulkan reaksi di kalangan Angkatan Perang. Maka pada tanggal 27 Februari 1948, Presiden mengeluarkan Penetapan Presiden No.9 Tahun 1948 yang membatalkan penetapan yang lama dan mengeluarkan penetapan baru. Dalam penetapan yang baru ini, Staf Angkatan Perang tetap di bawah Komodor Suryadarma, sementara itu Markas Besar Pertempuran tetap di bawah Panglima Besar Jenderal Soedirman, ditambah Wakil Panglima yaitu Jenderal Mayor A.H. Nasution. 

Angkatan Perang berada di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP) yang membawahi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) dan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU).

Dalam penataan organisasi ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu penataan kementerian dan pimpinan tertinggi ditangani oleh KASAP, sementara mengenai pasukan serta daerah-daerah pertahanan ditangani oleh Wakil Panglima Besar Angkatan Perang.

Untuk menyelesaikan penataan organisasi ini, Panglima Besar Jenderal Soedirman membentuk sebuah panitia yang anggotanya ditunjuk oleh Panglima sendiri. Anggota panitia terdiri dari Jenderal Mayor Susaliy (mantan PETA dan laskar), Jenderal Mayor Suwardi (mantan KNIL) dan Jenderal Mayor A.H. Nasution dari perwira muda. Penataan organisasi TNI selesai pada akhir tahun 1948, setelah Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera, Kolonel Hidajat menyelesaikan penataan organisasi tentara di Pulau Sumatera.[13]

sumber : wikipedia

Referensi

  1. ^ a b c Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 1.
  2. ^ Tentara Nasional Indonesia Jilid I,cet II. hlm. 106.
  3. ^ Perjuangan ABRI dan rakyat di Sumatera 1945-1950. hlm. bab II.2.
  4. ^ Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 17.
  5. ^ Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 24.
  6. ^ Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 25.
  7. ^ Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 32.
  8. ^ Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 34.
  9. ^ Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 46.
  10. ^ Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). hlm. 48.
  11. ^ Kusnodiprodjo (1951). Himpunan Undang-undang, Peraturan-peraturan, Penetapan-penetapan Pemerintah Republik Indonesia 1947. Jakarta. hlm. 336.
  12. ^ Djenderal A.H. Nasution (1968). Tentara Nasional Indonesia, Jilid II. Jakarta: Seruling Masa. hlm. 130-132.
  13. ^ Drs.Amrin Imran; Drs.Hayun Ugaya, Drs Tanu Suherly, Sri Suko BA (1971). Sedjarah Perkembangan Angkatan Darat. Seri Text-Book Sedjarah ABRI, Departemen Pertahanan Keamanan, Pusat Sedjarah ABRI. hlm. 17.
Readmore »»   Sejarah Tentara Nasional Indonesia

Jumat, 07 Juni 2013

Panduan Menjadi Mahasiswa Sukses



Judul Buku : Scholar : Panduan Untuk Menjadi Mahasiswa Sukses
Penulis : J.L. Michell Suharli
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbitan : Januari, 2012
Harga : Rp. 45.000,

Pada masa sekarang ini kita mendapati banyak mahasiswa yang membuang energi dan waktu pada hal-hal yang tidak berguna, seperti pesta pora, mabuk-mabukkan dan mengonsumsi obat-obat terlarang. Kebanyakan dari mereka berpaham bahwa masa muda adalah masa untuk bersenang-senang. Akan tetapi mereka sepertinya tidak mampu melihat bahwa, dalam jangka panjang, apa yang mereka lakukan sesungguhnya hanya akan membawa mereka kedalam keadaan yang penuh  dengan kekecewaan dan frustasi.

Readmore »»   Panduan Menjadi Mahasiswa Sukses

Rabu, 05 Juni 2013

Kongres Makin Dekat, HMI MPO Harus Makin Solid

HMINEWS.Com – Menyikapi agenda Kongres XXIX Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) yang akan digelar di Bogor kurang dari satu bulan lagi, diharapkan persiapan makin matang. Baik itu menyangkut konsep hingga persoalan teknis, harus benar-benar matang sehingga tercapai hasil seperti yang diinginkan.


Panitia, MPK (Majelis Pekerja Kongres) dan Pengurus Besar juga diharapkan makin memantapkan konsolidasi dengan Badko dan cabang-cabang. “Komunikasikan dengan Badko yang ada di seluruh Nusantara. Berkonsolidasi untuk rembug nasional terkait dengan arahan organisasi kedepan,” kata salah satu pengurus Badko Jawa Bagian Tengah dan Timur (Jabagtengtim), Muhadz Ali kepada hminews, Ahad (2/6/2013).


Ia juga berharap, potensi konflik diantisipasi sedini mungkin, sehingga kongres berjalan lancar, tidak ada saling curiga antar kader yang tentu bisa berdampak pada eksistensi gerakan secara nasional. Muhadz juga mengingatkan agar sesama kader tetap menjaga uswah dan ukhuwah, termasuk saat kongres berlangsung.


Badko Jabagtengtim, lanjut Muhadz, telah mengkonsolidasikan dengan semua cabang yang bernaung di Badko-nya dan telah menghasilkan gagasan yang akan disampaikan pada kongres nanti. Oleh karena itu, ia mengimbau, dengan semakin dekatnya waktu kongres, segala sesuatu yang akan dibutuhkan di kongress harus diselesaikan.


“Badko Jabagtengtim akan selalu mensolidkan diri baik secara internal kepengurusan maupun me-masiv-kan komunikasi dengan cabang-cabang tengah,” pungkasnya.

sumber : http://hminews.com/news/kongres-makin-dekat-hmi-mpo-harus-makin-solid/
Readmore »»   Kongres Makin Dekat, HMI MPO Harus Makin Solid

Hikayat Politik Kelelawar



Kata sahibul hikayat, kelelawar itu dulu juga berpolitik, namanya politik kelelawar. Kata yang punya cerita, syahdan pada suatu ketika, ada perlombaan adu cepat antara dua kelompok binatang. Yang satu kelompok binatang udara dan yang lain kelompok binatang darat.

Kedua kelompok itu bertanding untuk mencapai garis finish. Siapa yang lebih dulu mencapai garis akhir, dialah yang menjadi sang juara. Ketika semua binantang telah memilih kelompoknya masing-masing sesuai dengan jati dirinya, ada seekor binatang yang menyendiri. Ia tidak mau bergabung ke salah satu pihak. Ia adalah kelelawar, ia bersikap menunggu.

Setelah perlombaan berjalan beberapa saat, kelompok binatang udara mulai meninggalkan kelompok binatang darat. Maklum mereka punya sayap dan dapat terbang dengan cepat. Melihat para burung sudah mulai memperoleh kemenangan, kelelawar dengan sigap bergabung dengan kelompok burung.

Kelompok binatang udara pun kaget. Mereka bertanya, mengapa si kelelawar tiba-tiba bergabung dengan mereka. Si kelelawar menjawab” tidakkah kalian melihat bahwa aku mempunyai sayap seperti kalian, lihat lah aku bisa terbang”. Para burung pun mengiyakan.

Namun tidak lama kemudian, kelompok binatang darat berlari mati-matian mengejar kemenangan. Mereka berhasil mendahului kelompok binatang udara. Ada tanda-tanda kemenangan akan diperoleh oleh binatang darat, si kelelawar lansung bergabung dengan binatang darat.

Kubu binatang darat gembar dengan sikap  si kelelawar yang plin plan itu. Mereka menuduh si kelelawar se ekor binatang munafik. Si kelelawar menjawab dengan enteng pernyataan para binatang darat “ tidakkah kalian lihat bentuk moncongku ini seperti moncong tikus. Saya ini binatang darat”.

Binatang darat cukup puas mendengar pernyataan kelelawar. Namun di luar dugaan, para burung berusaha mati-matian mempercepat terbang dan akhirnya kelompok burung berhasil meraih kemenangan pertandingan antar binatang itu. Melihat hal itu, kelelawar segera keluar dari kelompok binatang darat dan terbang ke kelompok binatang udara yang baru saja memperoleh kemenangan. “Hai kawan-kawan jangan lupakan aku “kelelawar” aku ini dari golongan kalian” kata kelelawar.

Akan tetapi sekali ini seluruh binatang udara dan darat marah besar pada kelelawar. Ia dituduh hipokrite. Ia akan  dicincang ramai-ramai. Si kelelawar pun lari ke kelompok binatang yang kalah untuk berlindung. Sama saja binatang darat juga naik pitam melihat kelakuannya. Maka ketika itu kelelawar lansung terbang meninggalkan kedua kelompok binatang itu. Ia malu besar. Akhirnya ia hanya berani keluar di waktu malam hari saja. Sejak itu pula kelelawar mulai memilih tempat-tempat gelap untuk tempat tinggalnya. (Redaksi blog HMI)




   




   


Readmore »»   Hikayat Politik Kelelawar

Optimis Mencapai DREAM dan GOAL



Keinginan untuk menikmati kesuksesan melekat dalam hati semua manusia. Namun, kenapa ada orang yang bisa mencapai kesuksesan dan yang lainnya justru berada dalam kondisi terpuruk?. Sebuah jawaban mudahnya mungkin adalah mereka memiliki takdir yang bagus. Orang yang memiliki sikap mental seperti ini, dan digabungkan dengan kebiasaan melakukan tindakan yang tidak berguna, terbukti merupakan sumber dari kegagalan.

Kenyataannya, kita mendapatkan apa yang layak kita dapatkan. Dengan kata lain keberuntungan dipersiapkan oleh pikiran. Orang yang memiliki kebiasan  mudah menyerah, tidak konsisten, takut menghadapi masalah dan tidak berani untuk mengambil resiko terbukti akan menjuruskannya kedalam kegagalan demi kegagalan. 

Seorang fsikolog menekankan pentingnya kebiasaan dalam membentuk tingkah laku melalui pernyataan, “semua manusia adalah makluk yang dibentuk oleh kebiasaannya dan kebiasaan adalah ibarat tali; kita menganyamkan seutas benang padanya tiapa hari, dan ia akan menjadi akan sangat kuat hingga kita tidak akan kuat untuk memutuskannya”. Karena kebiasaan itu sukar untuk dihilangkan, maka kita harus waspada untuk membiarkan sebuah kebiasaan buruk mempengaruhi dan menguasai pikiran kita.

Buku, Meraih Sukses Itu (Tidak) Gampang, yang ditulis oleh Armala merupakan salah satu buku yang mangajarkan cara mengembangkan potensi yang kita miliki, membantu kita menyusun strategi yang jitu untuk mencapai kesuksesan, serta memberikan cara pandang  yang bisa dipegang selamanya bahwa kecerdasan dan ketekunan adalah jaminan untuk meraih kesuksesan. Buku ini juga menunjukkan jalur jalan yang sering ditempuh oleh orang-orang yang telah sukses, sehingga dapat membantu pembaca menuju kesuksesannya, dengan mengikuti jejak kesuksesan yang telah mereka tinggalkan.

Secara umum isi buku ini dapat dibagi  dalam tiga bagian besar. Bagian pertama menjelaskan tentang bagaimana cara menemukan potensi diri; yang didalamnya  mencakup tentang cara memunculkan ide-ide yang baru, menjaga impian yang ingin dicapai, dan mengajarkan bagaimana membentuk  sikap berani untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kedua, buku ini menjelaskan bagaimana cara mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul dalam mengaplikasikan potensi yang ada, baik kemungkinan yang baik ataupun kemungkinan yang buruk. Tak lupa pula, penulis mengungkapkan perihal masalah-masalah yang biasanya menjadi rintangan dalam menggapai kesuksesan.  

Ketiga, buku ini juga menjelaskan tentang cara menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Cara yang ditawarkan oleh penulis sangatlah unik, karena yang menjadi patokan penyelesaian masalah bukanlah menghilangkan masalah tetapi menjadikan masalah sebagai sebuah peluang untuk meraih kesuksesan.

Dengan membaca buku ini kita akan tergerak, termotivasi untuk menumbuhkan keberanian dalam mencapai kesuksesan yang kita inginkan. Apapun yang dikatakan dalam buku ini, sudah dipilih sebagai kunci bagi setiap kesuksesan yang akan kita capai. Sehingga wajiblah bagi orang-orang yang ingin sukses, yang belum meraih kesuksesan dan bagi mereka yang sudah meraih kesuksesan, tetapi belum tahu cara mempertahankannya untuk membacanya.

Teuku Saifullah, Kader HMI Kom. Syariah IAIN Walisongo Semarang.. di muat di Koran Birawa, tanggalx dah lupa.
Judul buku : Meraih Sukses Itu (Tidak) Gampang

Penulis : Armala

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun: Januari, 2012

Tebal: 216 Halaman

Harga: Rp. 48.000,



Readmore »»   Optimis Mencapai DREAM dan GOAL